Akankah Imam dkk Dieksekusi?
ini saya ambil dr http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16
Fauzan Al-Anshari
Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia
Tayangan eksklusif Lativi
(4/11) mewawancarai Umi Badriah, ibunda Imam Samudera perlu dicermati.
Umi mengatakan bahwa dirinya sampai detik ini belum percaya bahwa putra
kesayangannya itulah yang mengebom Sari Club di Bali (12/10/02).
Menurut Umi, kalaupun Imam sanggup meracik bom, daya ledaknya tidak
mungkin sedahsyat bom Bali tersebut. Agus Setiawan, Tim Pembela Muslim
yang mendampingi Umi pada acara itu mengatakan bahwa Imam sendiri
ketika ditanya soal kedahsyatan bom Bali, ia menjawab bahwa itu bantuan
malaikat.
Pada
hari Sabtu, 12 Oktober 2002 menjelang tengah malam tiba-tiba sebuah bom
meledak di Paddy’s Bar, tempat para turis asing berpesta pora. Seketika
itu juga aliran listrik padam, sehingga sepanjang jalan Legian Kuta
gelap gulita. Dalam hitungan detik sesaat kemudian muncul cahaya terang
orange yang memancar membentuk awan cendawan, semburan api raksasa
terlihat hampir bersamaan dengan terdengarnya ledakan dahsyat. Ternyata
bom kedua di Sari Club meledak, efeknya terdengar sampai radius puluhan
kilometer.
Indonesia
tersentak, tak menyangka akan terjadi ledakan dahsyat di Bali. Sangat
disayangkan pemerintah Indonesia tidak segera mengambil sikap, tidak
seperti pemerintah Amerika yang cepat membuat pernyataan Amerika under attack
lalu menutup semua akses keluar dari Amerika. Pemerintah Indonesia
bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk melindungi
rakyatnya. Pintu ke luar masuk dibiarkan terbuka lebar, sehingga jika
ada keterlibatan pihak asing, barang-barang bukti itu akan lenyap
dibawa lari ke luar negeri. Yang tersisa hanya bukti lokal, yang
menyebabkan rakyat sendiri jadi korban fitnah.
Bom apa itu?
Pada hari awal pascaledakan tim Mabes Polri mengadakan kajian bersama
tim FBI, dan sudah berani membuat pernyataan, "Berdasarkan efek ledakan
bom, besar kemungkinan material yang digunakan dari jenis C4," kata
Kabag Humas Polri saat itu, Irjenpol Saleh Saaf. Pernyataan tersebut
diperkuat oleh Kepala BIN AM Hendropriyono, yang disampaikannya saat
berkunjung ke TKP (19/10/02).
Lalu dari mana C4? Mark Ribband, ahli eksplosif Inggris mengatakan kepada AFP
(15/10/02), "Bom C4 memang diproduksi oleh beberapa negara, tetapi
produsen utamanya adalah AS dan Israel." Setelah kedatangan Tim Polisi
Federal Australia (AFP) pernyataan polisi berubah, bom yang meledak
dari jenis RDX. Lalu berubah lagi, kata polisi dari jenis TNT. Bahkan
Polda Jatim sempat keceplosan bicara, bahwa bom yang meledak di Bali
itu mungkin bom karbit, karena di sekitar TKP ditemukan bubuk potasium
khlorat.
Setelah bom meledak, dalam tempo 5 mikro-detik detonasi yang sangat dahsyat berupa gelombang tekan (shock wave)
berkekuatan satu juta kaki per detik membongkar jalan yang berada di
depan Sari Club. Aspal, batu dan tanah dengan berat dua ton-an
terlempar berhamburan ke udara, sementara tanah dan pasir berputar ke
segala arah bak angin puting beliung, mampu memotong tubuh para turis.
Potongan-potongan tubuh manusia terserak sampai beberapa blok jauhnya,
sedang orang yang berada pada radius demosili 200-an meter tewas meski
dengan tubuh utuh, tapi tulang belulangnya patah dan remuk redam.
Belum
juga pihak kepolisian Indonesia selesai mengadakan penyelidikan,
tiba-tiba Presiden AS George Walker Bush sudah menuduh Alqaidah sebagai
dalangnya. Sementara, Lembaga Studi Pentagon dan Israel menuduh Jamaah
Islamiyah yang melakukannya. Munculnya tuduhan yang mendahului hasil
penyelidikan Polri, sudah barang tentu mempengaruhi independensi dan
objektivitas proses penyelidikan selanjutnya.
Joe
Vialls, pakar bom dan investigator independen asal Australia
berpendapat lain. Menurut dia, bom yang meledak di Bali itu lebih dari
C4, karena C4 itu hanya hebat di film-film Hollywood. C4 itu sebenarnya
hanya lebih baik dari TNT. C4 standar terbuat dari 91 persen RDX dan 9
persen Polyisobotciser, daya ledaknya hanya 1,2 kali lebih baik dari
TNT. Yang pasti kata Joe Vialls, "Skenario bom C4 tak bisa menjelaskan
mengapa bom Bali menimbulkan cendawan panas dan kawah yang cukup besar.
Adanya cahaya dan cendawan panas setelah lumpuhnya aliran listrik serta
munculnya kawah, bisa menjadi indikasi yang spesifik dari hadirnya
senjata mikronuklir. Sejumlah kalangan mempertanyakan tidak adanya
radiasi sinar gamma dalam kasus tersebut. Karena radiasi gamma dan
neutron tidak terdeteksi, mereka menyimpulkan tak mungkin ada
mikronuklir di Bali. Sanggahan itu sekilas masuk akal, tapi sebenarnya
menunjukkan kurangnya wawasan akan khazanah senjata nuklir."
Nuklir
konvensional memang selalu menghasilkan radiasi radioaktif, sementara
yang dipakai di Bali adalah mikronuklir non-konvensional yang disebut
Special Demolition Atomic Munition (SDAM). Dilengkapi reflektor
neutron, mikronuklir ini didesain sedemikian rupa hingga tidak sampai
menghasilkan sinar gamma dan neutron yang gampang disidik oleh alat
Geiger Counter. Limbah yang dihasilkan SDAM itu berupa awan panas dan
sedikit sinar alpha. Maka jika mendeteksi radiasi mikronuklir SDAM
dengan alat Geiger Counter itu jelas salah alamat, dan pasti tak akan
terukur adanya radiasi gamma serta neutron, kecuali di TKP terdapat
bahan radioaktif uranium.
Sedangkan
bahan yang dipakai untuk membuat SDAM umumnya adalah Uranium 238 dan
Plutonium 239. SDAM tidak meninggalkan jejak radiasi neutron dan atau
sinar gamma, tapi hanya menghasilkan panas dan sedikit pertikel alpha.
Partikel alpha tersedia dalam jumlah amat sedikit, sekitar satu
partikel dalam radius dua meter. Itu pun bisa hilang atau tidak
terdeteksi setelah TKP kena hujan, atau partikel terhirup oleh para
korban yang telah dievakuasi dan diabukan di Australia. Persoalannya,
para petugas kepolisian sudah kehilangan momen untuk menjejak partikel
alpha yang menjadi ciri khasnya.
Kepala
Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) saat itu, Jenderal Ryamizard Riyacudu,
mengatakan: "Saya yakin bahwa bom yang meledak di Bali adalah buatan
luar negeri, dan bukan buatan orang Indonesia. Bom yang begitu dahsyat
seperti itu tidak mungkin produk dalam negeri, itu pasti produk luar
negeri." Pernyataan ini diungkapkannya usai memberikan pengarahan
kepada prajurit Kopassus Grup 2 dan Brigif 413 Kostrad di Markas
Kopassus Kandang Menjangan Solo (12/11/02). Menurut Ryamizard Indonesia
sampai saat ini belum mampu membuat bom atom, bom napalm, mikronuklir
atau sejenisnya.
Kapten
Rodney Cox, tentara Australia yang menyaksikan langsung dahsyatnya bom
tersebut, karena berada di dekat TKP, berkata, "Saya pernah mengikuti
kursus demosili, tapi tak pernah menyaksikan efek ledakan yang begitu
hebat." Kesaksiannya yang cukup detail itu mengundang analisis lebih
jauh terhadap identitas bom Bali. "Pernyataan listrik mati sebelum
adanya kilatan cahaya pra ledakan telah menjadi petunjuk kuat dan tak
terbantahkan, bahwa masa kritis dari suatu senjata mikronuklir telah
tercapai," kata Joe Vialls.
Bom
kecil di Paddy’s Bar hanya menimbulkan kerusakan lokal. Sepuluh detik
kemudian meledaklah bom kedua di Sari Club yang sangat dahsyat,
menyebabkan seluruh aliran dan jaringan listrik di kota saat itu lumpuh
total oleh pengaruh gelombang elektromagnetik Source Region
Electromagnetic Pulsa (SREMP) yang dipancarkan mikronuklir pada titik
kritisnya. Pulsa elektromagnetik itu merambat melalui semua medium pada
kecepatan cahaya (300 ribu km/jam). Laporan yang disusun oleh Kapten
Jonathan Garland, wartawan koran resmi Angkatan Bersenjata Australia
itu rupanya telah membuat keki pemerintah dan petinggi militer
Australia. Mereka khawatir kesaksian itu akan membuat blunder bagi
Australia di masa depan. Maka dengan memo seorang menteri, laporan itu
kemudian dihapus dari situs ARMY.
Frederick
Burks, mantan penerjemah Deplu AS mengatakan, "Pada tanggal 16
September 2002 ada pertemuan rahasia di rumah Presiden Megawati, di
Jalan Teuku Umar Jakarta. Pertemuan itu diikuti: Megawati, Karen
Brooks, (Direktur National Security Council wilayah Asia Pasific),
Ralph Boyce (Dubes AS untuk Indonesia), Frederich Burks, dan seorang
wanita agen khusus CIA sebagai utusan spesial presiden Bush." Dalam
pertemuan 20-an menit itu, utusan khusus Bush meminta Mega agar
menyerahkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kepada pemerintahan AS. Mega
menolak, karena takut menimbulkan instabilitas politik dan agama, yang
tidak mungkin ditanggungnya. Akhirnya agen CIA itu mengancam, jika
Ustadz Abu tidak diserahkan sebelum pertemuan APEC, maka situasinya
akan bertambah buruk. Benar saja, ancamannya dibuktikan sebulan
kemudian, yaitu dengan peledakan Bom Bali I.
Jadi,
benarkah bom Bali di Sari Club itu buatan Imam Samudera cs? Atau buatan
Malaikat? Atau kiriman AS-Israel-Australia? Atau siapa? Sebelum ada
jawaban yang pasti, eksekusi harus ditunda! Menghukum orang yang tidak
bersalah adalah kezaliman.
Ikhtisar
- Keterlibatan Imam Samudra dan kawan-kawan (dkk) dalam Bom Bali I masih harus diuji keberanannya secara lebih komprehensif.
- Banyak indikasi menggambarkan bahwa dalam kasus Bom Bali I Imam Samudra dkk hanya menjadi korban fitnah.
- Atas alasan itu pula, eksekusi terhada Imam dkk perlu ditunda sampai buktinya benar-benar valid dan objektif.