Seputar Doa Bulan Rojab dan Sya’ban

Seputar Doa Bulan Rojab dan Sya’ban

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi Besar Penutup para Nabi dan Rasul Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman. Amiin.

Beberapa waktu yang lalu menjelang masuk bulan Rojab tepatnya pada tanggal 30 Jumadil Akhir, berturut-turut saya mendapat “terror” sms (short message service) dari beberapa teman dari para aktivis dan pegiat dakwah. Kenapa saya katakan sebagai “terror” karena bertubi-tubi handphone saya berbunyi berkali-kali sampai mencapai puluhan sms yang masuk ke kotak inbox. Isi sms itu semua adalah — ALLAHUMMA BARIKLANA FI RAJABA WA SYA’BAN WA BALIGHNA RAMADHAN”

artinya: Ya ALLAH, limpahkanlah keberkahan pada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”–. Sms atau pesan seperti ini melalui tausiyah atau sarana lain sering saya dengar terutama ketika memasuki bulan Rojab atau Sya’ban. Sebelumnya saya nggak pernah berpikir bahwa mereka menisbatkan Do’a tersebut pada Hadits yang secara otomatis menisbatkannya pada Muhammad SAW. Sebenarnya, pertama kali saya mendengar doa seperti itu adalah ketika saya mendengarkan sebuah nasyid (lagu) yang kalau tidak keliru dinyanyikan/disenandungkan oleh Izzatul Islam (lebih dikenal dengan Izis) pada salah satu albumnya. (saya lupa title albumnya). Pada saat itu saya berpikir bahwa ini hanya doa biasa saja seperti jika kita memohon sesuatu kepada Allah SWT. Sebagai contoh jika kita hendak atau pas mengahadapi ujian, mungkin tidak sedikit diantara kita yang berdoa dalam duduk khusyuknya dengan melafalkan “Ya Allah, Berikanlah kepadaku nilai ujian yang baik dan lulus dengan nilai 4” atau dengan lafal kata-kata yang semisal dengan itu. Artinya, saya tidak berpikir bahwa doa itu dinisbatkan pada hadits atau Nabi Muhammad SAW.

Permasalahannya sekarang ini, maksudnya beberapa hari yang lalu, beberapa teman yang mengirim pesan sms tersebut mengatakannya dengan redaksi seperti berikut: “Rasulullah bersabda ketika memasuki bulan Rojab:….” atau “Rasul ketika masuk bulan Rojab, beliau berdoa…..” dst. Di Masjid Kampus saya-pun yaitu Masjid Nurul Huda UNS (Universitas Sebelas Maret Solo) terpampang pengumuman dan tausiyah yang berisi pesan yang sama dengan uraian di atas. Dan yang paling membuat saya tertawa adalah ketika ada satu teman saya yang mengirim sms berisi doa tersebut tetapi pada pagi harinya dia justru mengirim sms dengan mengatakan bahwa doa itu hadits-nya dhoif. Saat itulah saya mulai coba tanya-tanya kesana-kemari sehingga terbesit untuk menulis dan mem-publish-kannya in this blog. Dari beberapa hasil dari tanya kesana-kemari muncullah kesimpulan sebagai berikut bahwa:

Hadits di atas ternyata memiliki dua kecacatan dalam sanadnya yakni:

  • Za’idah bin Abi ar-Ruqad, oleh Imam al-Bukhari dan Ibnu Hajar dikatakan: “Munkarul Hadits”

  • Ziyad bin ‘Abdillah an-Numayriy al-Bashriy, oleh Yahya bin Ma’in – ulama yang semasa dengan Imam Ahmad bin Hanbal- dikatakan: “Haditsnya lemah/dhoif”. Sedangkan Ibnu Hibban berkata dalam al-Majruuhin: “Munkarul Hadits”

  • Sebagian komentar para ulama mengenai hadits ini:

  • al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: bersendirian dengannya Ziyad an-Numayri dan darinya Za’idah bin Abi ar-Ruqad; berkata al-Bukhari: “Za’idah bin ar-Ruqad dari Ziyad an-Numayri Munkarul Hadits.”

  • adz-Dzahabiy dalam Mizanul I’tidal dalam biografi Za’idah bin Abi ar-Ruqad disebutkan hadits ini: “Juga lemah”

  • Ahmad Syakir: “sanad-sanadnya lemah”

(lebih jelasnya silakan dilihat di http://saaid.net/Doat/Zugail/57.htm -semoga masih ada)

Selain itu, tentang dhoif atau lemahnya sejumlah dalil atau hadis yang terkait dengan doa tersebut dapat dilihat dan diruju’ dalam kitab Majma` az-Zawa`id wa Mambail Fawa`id Jilid 1, hal. 332, bahwa doa tersebut dalam sanadnya diriwayatkan oleh Za’idah bin Abi al-Ruqad yang menurut al-Bukhari hadisnya Munkar dan tidak dikenal.
Nashiruddin al-Albani dalam Misykatu al-Mashabih 1/306 juga menyebutkan bahwa hadisnya dhaif. (http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/15/cn/28334)
Hanya saja masih ada saja orang yang menyatakan bahwa mengamalkan sesuatu dari hadits dhoif adalah boleh bila terkait dengan fadhilah amal (keutamaan amal). Dalam sebuat situs Islam disebutkan bahwa menurut penulis Tadzkirat al-Mawdhu’at meskipun hadisnya dhaif (yaitu hadits tentang doa di atas) karena ia terkait dengan fadhilah amal maka boleh untuk diamalkan. Dikatakan bahwa doa tersebut berisi sesuatu yang baik yang sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama yaitu meminta kepada Allah agar diberi keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban serta agar disampaikan ke Bulan Ramadhan.

Untuk mengkritisi ini tentunya kita masih ingat untuk mengetengahkan hadits shohih dari Rasul SAW yang juga kita hafalkan dalam Al Arbain Imam an Nawawi bahwa: “Barangsiapa melakukan / mengada-adakan amal perbuatan yang tidak ada perintah dari kami, maka (amal perbuatan tersebut) tertolak.” (HR. Bukhari & Muslim). Artinya perbuatan tersebut tergolong perbuatan sia-sia dan tertolak. Jika dikatakan oleh ulama hadits bahwa suatu hadits itu “lemah” apalagi palsu (Maudhu’), artinya, sabda di dalam hadits tersebut sangat diragukan merupakan sabda/perintah dari Rasulullah. Jadi apa yang terkandung di dalam hadits tersebut tidak boleh diamalkan dan dijadikan sebagai hujjah atau dasar serta dalil suatu amalan agar kita tidak termasuk dalam orang yang “mengamalkan perkara-perkara yang baru”. Apalagi jika kita sampai-sampai mengatakan bahwa itu adalah sabda Nabi Muhammad SAW, maka kita harus sudah siap menempatkan tempat duduk kita di neraka. Silakan melihat hadits-nya sendiri –bisa lewat al Lu’lu’ Wal Marjan-.

Selanjutnya dikatakan bahwa hadits dhoif bisa dijadikan sebai fadhilah amal. Hal ini pun terkesan lucu dan tidak sesuai dengan semangat spirit kaidah ilmu ushul hadits. Kalau dikatakan hadits dhoif tidak boleh dijadikan sebagai dasar amalan, tapi kenapa justru bisa dijadikan sebagai fadhilah amal?! Memang kita bisa mengatakan bahwa hadits dhoif yang sanadnya tidak terlalu berat maka bisa dijadikan sebagai fadhilah amal tapi dengan catatan tertentu. Yaitu, harus ada terlebih dahulu hadits yang lebih shohih dan dapat diterima untuk dijadikan sebagai dasar pondasinya. Misalnya ada hadits shohih yang mengatakan bahwa Nabi gemar berpuasa Senin-Kamis. kemudian ternyata ada dijumpai hadits dhoif yang menyatakan bahwa puasa Senin-Kamis dapat menebus dosa sekian tahun –misalnya, maka hadits dhoif tersebut bisa dijadikan sebagai tambahan motivasi agar orang-orang lebih termotivasi melakukan puasa Senin-Kamis. Akan tetapi kita tetap diharusan untuk mengatakan dan menyebutkan bahwa hadits itu adalah dhoif. Permasalahannya sekarang ini adalah apakah ada kita jumpai hadits yang shohih yang mengatakan Rosul berdoa ketika memasuki bulan Rojab (artinya mengkhususkan doa itu pada bulan Rojab)?! Kalau tidak ada, maka dengan alasan fadhilah amal tetap kita tidak boleh mengamalkannya.

Jika kemudian ada pertanyaan muncul, apakah kita tidak boleh berdoa memohon keberkahan di bulan Romadhon, Rajab dan Sya’ban?! Maka, boleh-boleh saja kita memohon apapun kepada Allah SWT. Hanya saja, yang perlu dicatat adalah ketika kita berdoa itu tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah sunnah rasul karena memang ternyata itu tidak sunnah rasul. Atau kita tidak boleh mengkhususkan dan seolah-olah mensyakralkan atau mewajibkan diri kita untuk berdoa seperti itu dengan lafal yang seperti itu pada bulan Rojab dan Sya’ban karena kita bisa saja terjatuh dalam orang yang mubtadi’ yang membuat bid’ah. Wallahu a’lam.

Sebenarnya masih banyak sekali amalan-amalan yang populer yang ada di bulan Rojab dan Sya’ban yang ternyata didasarkan pada hadits Dhoif bahkan Maudhu’. Na’udzubillahi min dzalik. Lain waktu dengan izin Allah SWT akan kita lanjutkan kembali. Demikian saya tulis artikel ini semoga bisa memberi manfaat. Sebagai penutup rangkaian kata-kata di atas, penulis berpesan bagi diri penulis khususnya dan kepada saudaraku seagama:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ()

"Hai orang-orang yang beriman, perbanyaklah berzikir (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab: 41-42)

Kebenaran berasal dari Allah dan apabila ada kekurangan maka semua itu semata-mata karena penulis yang fakir akan ilmu dan bergelimang akan dosa. Penulis beristighfar atas kesalahan-kesalahan yang penulis buat. Akhirul kalam. Wallahu a’lam bishhowab.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Selesai ditulis dengan keadaan mata yang tinggal menyisakan daya kekuatan 5 watt pada pukul 23.50 WIBOWO (Waktu Indonesia Bagian Pulau Jowo) dari Bilik kamar yang sunyi yang penuh Rahmat-Nya (sok banget ya..?), 10 Rojab 1428 H

24 Juli 2007

محمد ذوالفكر

Leave a Reply