Sepuluh Cara Menciptakan Pengajaran yang Baik

oleh Richard Leblanc, York University, Ontario

diterjemahkan oleh yg punya blog amaduq01@yahoo.com


Satu. Pengajaran yang baik tidak hanya terkait dengan bagaimana seorang pengajar memotivasi siswanya untuk belajar saja, tetapi juga mengajarkan kepada mereka bagaimana cara belajar, dan bagaimana melakukannya dengan cara yang sesuai, yang penuh makna, dan yang mengesankan. Pengajaran yang baik adalah memelihara keahlian yang dimiliki oleh seorang pengajar, berkeinginan besar untuk hal tersebut, dan menyampaikan tujuan itu kepada semua orang, yang paling penting terutama kepada murid-muridnya.

Dua. Mengajar yang baik pada prinsipnya adalah berkaitan pada hakekat inti dan bagaimana memperlakukan murid-murid seperti layaknya orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Hal tersebut tentunya berkaitan dengan kemampuan terbaik pengajar terhadap bidang yang dijalaninya, sumber-sumber bacaan, didalam dan di luar bidang keahliannya, dan berada pada batas pencapaian kemampuan pengajar yang tertinggi. Akan tetapi ilmu pengetahuan tidak harus selalu berupa laporan-laporan ilmiah. Hal ini disebabkan karena pengajaran yang baik adalah juga tentang bagaimana menyeimbangkan jarak antara teori dan praktek. Hal ini terkait dengan bagaimana pengajar menggerakkan alam khayalan dan membenamkan diri seseorang ke dalam lapangannya, mengajak bicara, dan berkonsultasi, dan membantu praktisi, serta membangun komunitas mereka.

Tiga. Pengajaran yang baik adalah tentang mendengarkan, memberi pertaanyaan, menjadi responsif, dan mengingat bahwa setiap siswa dan kelas itu berbeda-beda. Hal ini diwujudkan dengan bagaimana seorang pengajar bisa mendapatkan respon dan mengembangkan kemampuan komunikasi lisan dengan siswa-siswa yang sebelumnya pendiam. Seorang pengajar harus mampu mendorong siswanya untuk unggul; sedangkan di waktu yang sama, mereka juga harus belajar menghormati orang lain, dan menjadi seseorang yang professional di segala situasi, sebagaimana hal ini terkait peran mereka sebagai manusia sosial.

Empat. Mengajar yang baik tidak selalu terkait dengan memiliki agenda yang tetap dan kaku, tetapi pengajaran yang baik harus selalu fleksibel, cair, kerap bereksperimen, dan memiliki kepercayaan diri untuk bereaksi dan membiasakan perubahan-perubahan keadaan (sekitar). Seorang pengajar jangan sampai masih merasa biasa atau berhasil ketika melihat materi yang diperoleh oleh para siswa hanya sebanyak 10 persennya saja. Jadi, ia sebagai seorang pengajar harus mampu mencoba mencari alternatif di luar silabi / rencana pelajaran atau pedoman perkuliahan dengan mudah ketika ia mendapati hal-hal yang lebih banyak dan lebih baik di luar. Mengajar yang baik adalah tentang menciptakan pribadi-pribadi kreatif yang otoriter tetapi juga tidak meninggalkan sikap demokratis.

Lima. Mengajar yang baik juga berkaitan dengan gaya. Apakah mengajar harus menghibur? Tepat sekali! Tapi apakah terus berarti bahwa kemudian pengajaran itu kehilangan isi pokoknya? Tentulah tidak! Mengajar yang efektif bukanlah terpakunya kedua tangan di atas mimbar atau terpakunya mata pada slide proyektor saat meyampaikan materi. Pengajar yang baik harus mampu menguasai ruang dan setiap siswa yang ada di dalamnya. Mereka, para pengajar, harus menyadari bahwa peran mereka adalah layaknya konduktor dan kelas diumpamakan sebagai orkestranya. Kemudian, semua siswa memainkan alat-alat musik yang berbeda dan memvariasikan kecakapan / keahliannya.

Enam. Mengajar adalah tentang humor-ini yang sangat penting. Pengajar jangan ragu-ragu untuk menjadi pribadi yang mencela diri. Dan tidak menempatkan dirinya terlalu serius. Maka, seorang pengajar harus seringkali mampu membuat lawakan-lawakan yang tidak merusak, mungkin kebanyakan dengan sedikit mengorbankan diri, sehingga seperti balok-balok es yang menjadi pecah yang membuat siswa bisa belajar dalam suatu situasi yang relax menyenangkan sedangkan pengajar seperti halnya mereka, adalah juga manusia dengan kesalahan dan kekurangan.

Tujuh. Pengajaran yang baik adalah tentang bagaimana memperhatikan, mengasuh, dan mengembangkan otak serta talenta siswa. Ini adalah tentang mencurahkan waktu, tanpa diketahui, kepada setiap siswa. Ini juga berkaitan tentang tidak menghargai waktu berjam-jam dengan memberi nilai, mendesain atau mendesain ulang perkuliahan, dan menyiapkan materi-materi kepada instruksi-instruksi yang lebih tinggi dan lebih lanjut.

Delapan. Menciptakan pengajaran yang baik ternyata perlu didukung oleh kekuatan jiwa kepemimpinan yang kuat serta visioner, dan bantuan kelembagaan yang nyata – baik sumber pendapatan, SDM, dan sumber dana. Pengajaran yang baik juga perlu diperkuat secara kontinyu dengan suatu tujuan yang overarching yang lebih penting dari keseluruhan organisasi. – dari profesi penuh menjadi part-time instruktur (instruktur paruh waktu)– dan dicerminkan di dalam apa yang dikatakan. Tetapi yang lebih penting adalah yang tercermin dari apa yang dilakukan.

Sembilan. Mengajar yang baik adalah tentang mendampingi antara kemampuan senior dan junior, kerja tim, serta menjadi dikenal dan dipromosikan oleh seseorang kawan sebayanya. Seharusnya pengajaran yang efektif diberi hadiah, sedangkan pengajaran yang tidak baik harus diremidi / diulang melalui serangkaian latihan dan pengembangan program.

Sepuluh. Tips terakhir, mengajar yang baik adalah tentang memiliki rasa fun, mengalami kesenangan, hadiah-hadiah hakiki … seperti membidik seorang siswa di belakang keributan dan melihat hubungan sinapsis dan saraf, pikiran-pikiran menjadi terformat/terbentuk, orangnya menjadi lebih baik, dan munculnya senyum yang merekah yang menghias wajah karena pengajaran semua dari kejadian yang tiba-tiba. Akan tetapi yang paling penting adalah pengajar yang baik mempraktekkan keahlian mereka tidak untuk uang.



Diterjemahkan dari artikel Richard Leblanc yang berjudul Good Teaching: The Top Requirements yang diambil dari www.honolulu.edu/hawaii pada hari Ahad, 2 Oktober 2005, Pkl. 21.00 WIB.


Leave a Reply