Archive for July, 2007

BERSATULAH UMAT ISLAM!!!

Monday, July 23rd, 2007

Umat Islam Harus Bersatu !!!

yg punya blog

Serangan tentara Israel terhadap para pejuang muslim di Palestina dan Lebanon beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang masih berlangsung mewarnai pemberitaan di semua surat kabar. Serangn yang konon dilatarbelakangi oleh upaya pembelaan diri dan upaya pembebasan terhadap dua orang serdadunya yang ditawan oleh pejuang Hammas di Yordania tersebut sampai kini masih berlangsung dan bahkan meluas tidak hanya terarah pada Hammas saja tertapi juga sampai ke Lebanon. Bahkan kemungkinan serangan tersebut tidak akan berhenti di situ dan justru akan lebih meluas akibat pernyataan dari sang bos presiden AS George Bush yang tidak menyalahkan tingkah polah Israel tetapi justru menyalahkan pejuang Hizbullah di Lebanon selatan yang ikut campur. Tidak berhenti itu saja, cucu Paman Sam tersebut juga mengarahkan tuduhan ke arah Iran dan Suriah yang diduga mendukung dan menjadi sponsor atas serangan balasan dari para pejuang Hammas dan Hizbullah.

Situasi yang “ruwet” inilah yang memaksa umat islam di seluruh dunia menunjukkan empati dan simpati serta solidaritas mereka atas tindakan para tentara Israel. Di Indonesia, seluruh umat islam-pun mulai bergerak dan menunjukkan sikap solidaritas mereka dengan mengadakan aksi-aksi damai mengecam kekejaman tentara Israel, serta mendesak negara-negara islam untuk bersatu melawan tindakan Israel. Hujatan-hujatan diteriakkan atas Israel dan Yahudi di dalam aksi-aksi demonstrasi dan mimbar-mimbar masjid, penggalangan dana dilangsungkan di setiap daerah oleh semua ormas-ormas islam, di hampir setiap masjid dibacakan qunut nazilah ketika sholat wajib, bahkan sampai pendataan relawan-relawan mujahidin ke palestina pun ada juga dilakukan. Namun, di tengah-tengah aksi-aksi yang dilakukan umat islam tersebut terganjal sedikit kerikil-kerikil yang mengganggu penulis sehingga penulis menuliskan artikel ini. Ganjalan dan kerikil yang penulis rasakan tersebut adalah ketidakbersatuan umat islam dan ormas islam dalam menanggapi kasus palestina tersebut.

Hampir selama satu pekan ini, di Kota Solo berlangsung aksi-aksi solidaritas Palestina dari kelompok islam yang berbeda-beda. Hari Jumat, 14 Juli 2006, ratusan massa yang menamakan diri Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) menggelar aksi solidaritas, tabligh akbar, dan penggalangan dana dengan long march dari Masjid Kotta Barat menuju Bunderan Gladak yang diakhiri orasi. Hari Selasa, 18 Juli 2006, giliran puluhan massa mahasiswa yang didominasi para wanita yang merupakan gabungan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se Surakarta mengadakan aksi serupa dengan long march menempuh jalur Kampus UNS Mesen menuju Bunderan Gladak. Terakhir, seolah tak ingin kalah dari dua aksi sebelumnya, massa islam yang mengatasnamakan diri Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) se Kota Solo Raya juga mengerahkan puluhan massanya untuk mengadakan aksi yang serupa dengan dua aksi sebelumnya.

Secara sengaja, penulis ikut menyaksikan ketiga aksi solidaritas tersebut hingga merasakan suasana adrenalin yang memuncak ketika hentakan takbir merasuk jiwa. Namun, tak berlangsung lama kemudian penulis menyaksikan suasana sekitar dan sedikit merenungkan sesuatu.

Terlintas pikiran bahwa ternyata ada yang nggak beres di dalam aksi tersebut. Sebetulnya kesalahan bukan pada materi aksinya, tetapi lebih dari itu adalh pandangan masyarakat umum terhadap umat islam itu sendiri. Dari kejadian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ketiga aksi yang berlangsung tersebut adalah dilakukan oleh massa umat islam. Namun, masyarakat dan penulis pun bnerpikir mengapa setiap hari ada aksi serupa dari massa umat islam. Bukankah lebih efisien dan efektif apabila ketiga aksi tersebut bergabung menjadi satu aksi yang besar yang tidak hanya melibatkan ketiga kelompok tersebut saja tetapi juga kelompok massa islam yang lain yang “belum” mengadakan aksi. Penulis mengkhawatirkan aksi-aksi itu selain ditujukan untuk solidaritas kepada pejuang Palestina berefek negatif pada sikap fanatisme kelompok atau golongan diantara umat islam yang justru memecah belah kesatuan umat islam. Hal ini penulis ungkapkan bukan tanpa alasan. Di salah satu pamflet ajakan aksi dari salah satu kelompok massa tersebut tertulis kalimat yang bisa menimbulkan sikap fanatisme kelompok (ta’ashubiyyah) dan menjelekkan kelompok lain. Kalimat yang berbunyi “solidaritas palestina bukan hanya monopoli partai politik tertentu saja” adalah kalimat yang memojokkan kelompok islam tertentu dan bisa menyulut prmusuhan dan kebencian di antra jamaah islam. Padahal, perpecahan adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesudah aksi tersebut berlangsung, seolah menjawab aksi sebelumnya, maka berlangsunglah aksi berikutny dan berikutnya dan mungkin akan muncul aksi dari kelompok yang tidak ingin ketinggalan lainnya. Situasi seperti inilah yang besar atau kecil akan bisa menimbulkan friksi dan gesekan serta perpecahan di kalangan jam’atul muslimin di Indonesia dan dunia mungkin. Padahal Allah menjelaskan bahwa umt islam hendaknya bersatu padu dalam mengahdapi makar kaum kafir.

……….

Dari uraian di atas maka bukankah bersatu lebih baik dari pada berpecah? Lalu, bukankah sikap menahan diri dari ghibah terhadap umat islam lain itu lebih baik? Dan bukankah sikap egoisme dan ta’ashub itu hrus ditinggalkan? Penulis mengharapkan kejadian yang berlangsung beberapa waktu yang lalu tersebut bisa dijadikn ibroh dan sarana muhasabah bagi umat islam dan ormas islam semuanya. Ketika ada kejadian yang menyengsarakan umat islam di kawasan belahan dunia lain, maka kelompok-kelopmpok islam harus segera berkomunikasi. Jangan hanya karena yang mengadakan aksi tertentu adalah bukan dari kelompok kita maka kita tidak mau ikut berpartisipasi di dalam aksi tersebut. Tetapi, kita justru langsung ikut berpartisipasi dan ikut larut sekalipun tanpa undangan dalam aksi yang diadakan oleh kelompok lain tersebut. Hal-hal seperti inilah yang nantinya akan mengikis sikap ta’ashub dan memupuk rasa ukhuwah islamiyah dan imaniyah yang sebenarnya.

Semoga aksi-aksi yang telah dilangsungkan oleh kelompok-kelompok islam selama ini benar-benar dilandasi rasa keikhlasan dan menghindarkan diri dari sikap ta’ashub yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Dan semoga aksi umat islam yang belangsung secara estafet di solo beberapa waktu yang lalu juga hanya karena alasan fas tabikhul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan tanpa mengesampingkan keompok yang lain.

Terakhir kata penulis tutup dengan:

اللهم اهدنا فيمن هاديت و عافنا فيمن عافيت 

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Dini di Era Modern

Monday, July 23rd, 2007

Oleh yg punya blog

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi Besar Penutup para Nabi dan Rasul Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman. Amiin.

Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar berita tentang seorang anak laki-laki SMP yang memperkosa tetangganya yang masih SD. Belum selesai mulut kita termangu menyaksikan dan mendengar berita mengejutkan itu kita kembali mendengar berita bahwa seorang anak SD “berhasil” memperkosa temannya. Mungkin sebagian besar diantara kita telah mendengar berita-berita “basi” tersebut. Bukan basi atau tidaknya yang menjadi masalah tetapi sesungguhnya kita telah dihadapkan pada sebuah “batu raksasa yang menggelinding di depan muka kita”. Artinya kita sekarang sedang menghadapi sebuah masa yang penuh dengan ujian, cobaan, dan fitnah. Sempat terlintas dalam pikiran penulis dan mungkin pikiran Ibu / Bapak bahwa bagaimana mungkin anak SD bisa tahu hal-hal yang seperti itu. Namun, faktanya itu terjadi.

Dekadensi moral yang terjadi di negara ini ternyata benar-benar merasuk jiwa bangsa ini. Iblis-iblis seakan-akan hijrah dari neraka menuju bumi Indonesia ini. Dalam kasus-kasus seperti yang diketengahkan di atas, semuanya hampir kompak menyebutkan bahwa latar belakang mereka melakukan perbuatan itu (baca: pemerkosaan) adalah diawali dengan melihat, menonton, menyaksikan gambar, foto, atau video porno. “Anak SD sudah bisa melihat film blue (film porno)?”pikir penulis. “Ya wajar ajalah, jangankan kok nonton VCD, di televisi saja banyak kita jumpai adegan yang menjurus ke arah porno.” Gumam penulis.

Belum selesai penulis beranjak dari keterheranan penulis akan hal itu, penulis melihat dan menyaksikan di layar televisi dengan mata kepala penulis sendiri bahwa pemerintah melalui TELKOM akan memfasilitasi dan membangun jaringan internet di seluruh Indonesia khususnya di wilayah pedesaan dan kalangan siswa SD dengan menyediakan 70.000 jaringan komputer. (kalau tidak salah). Lantas, kalau memang ada internet bantuan pemerintah untuk anak SD dan pedesaan, trus kenapa? Mungkin begitu pikir kita. Apa hubungannya? Bukankah Internet tidak haram laksananya babi yang sudah jelas diharamkan Allah SWT?

Memang benar, internet tidak haram sejauh yang penulis ketahui. Bahkan, mungkin akan menjadi wajib (fardhu kifayah) bagi orang Islam untuk mempelajarinya jika memang besar manfaatnya sementara belum ada orang Islam yang mampu menguasai teknologi internet itu. Namun, permasalahannya bukan di sisi halal atau haramnya. Lebih dari itu, penulis ingin mengajak ibu-ibu dan bapak-bapak benar-benar mempersiapkan putera-puterinya agar terbentengi dengan kekuatan iman yang kuat. Internet adalah satu-satunya media (barangkali) yang bisa melihat dunia hanya dari tempat duduk di depan layar monitor komputer sesuai dengan keinginan kita. Intinya kita “bebas” untuk berbuat apa saja di internet. Kita bisa berkomunikasi, mencari berita, menghina, berkomentar, mengkritik dan lain-lain samapai-sampai hal yang tabu untuk dilihat-pun bisa dilihat di sana “kalau mau”. Dan, Internet tidak mengenal umur.

Nah, dengan gambaran-gambaran tersebut penulis ingin mempertajam pembicaraan secara lebih mendalam. Dari beberapa ilustrasi kisah di atas, saat ini kita khususnya para orang tua yang memiliki putera-puteri dan calon orang tua yang kelak akan mempunyai anak juga benar-benar dihadapkan pada suatu ujian yang besar dari Allah. Pada suatu saat nanti, sangat mungkin setiap rumah akan memiliki internet dan anak-anak SD akan memahami internet. Kalau hal tersebut sudah terjadi, bisa saja mereka mengoperasikan atau mengakses Internet semau mereka. Ketika mereka tidak diperkuat dengan kekuatan iman yang kuat, sangat mungkin mereka akan mengawali penjelajahan di dunia maya itu dengan mengakses situs-situs dan gambar-gambar porno. Dan yang akan menjadi petaka adalah ketika kelak semua orang akan menganggap hal tersebut sebagai suatui hal yang biasa maka sangatlah wajar nantinya banyak terjadi pemerkosaan, free sex, dan perbuatan-perbuatan yang merusak nilai-nilai islam, agama, dan moral. Penulis teringat akan suatu hadits:

عن أبي هريرة رضي الله عنه: قال النبيّ( ص م ) ما من مولود الاّ يولد على الفطرة , فأبواه يهوّدانه, او ينصّرانه, او يمجّسانه, كما تنتحّ البهيمة جمعاء هل تحسّون من جدعاء؟ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, bersabda nabi SAW: Tiada anak yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia kafir Yahudi, Nasrani, atau Majusi seperti halnya seekor binatang ternak melahirkan anaknya dengan sempurna, apakah kau dapati kekurangannya?” (HR. Buhori)

Dari dalil hadits di atas kita juga bisa menambahkan keterangan tambahan bahwa anak itu adalah amanah dari Allah yang juga harus kita pertanggungjawabkan. Lebih-lebih terhadap apa-apa yang mereka lakukan ketika masih kecil atau belum baligh. Bagi seorang guru, maka murid SD adalah bagian dari tanggung jawabnya untuk dididik beragama. Dan tidak hanya bagi guru saja tetapi bagi setiap profesi yang tentunya memiliki konsekuensi yang sama pada prinsipnya.

اكرموا أولادكم واحسنوا أدابهم, فانّ أولادكم هديةٌ اليكم (رواه ابن ماجة)

Hormatilah anak-anakmu sekalian dan perbaikilah pendidikan mereka, karena anak-anakmu sekalian adalah karunia (Allah) kepadamu sekalian.” (HR. Ibnu Majah)

Sebagai orang tua tentunya tidak akan pernah ada yang mengharapkan putera-puterinya menjadi orang jahat, menjadi maling, atau yang semisalnya. Akan tetapi semua pasti akan menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang sholih, orang yang baik, orang yang sukses meskipun orang tuanya adalah penjahat. Dan sungguh indah perkataan Nabi SAW dalam hadits ini:

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث: صدقة جاريّة او علم ينتفع به, او ولد صالح يدعوله (رواه مسلم عن ابى هريرة)

Apabila anak Adam (manusia) itu mati, maka amalnya terputus semua kecuali tiga perkara yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

Kata yang tercetak tebal sengaja penulis sorot. Hampir tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak sholeh. Namun, menjadikan anak sebagai seorang sholeh bukanlah tugas tangan saat membolak-balikkannya. Perlu proses yang panjang dalam mendidik anak. Sebagaimana juga tidak ada orang yang bisa membangun jembatan layang tanpa pernah mengerti perhitungan 2+2=4. Di sinilah peran orang tua yang juga ikut serta dalam mengarahkan puter-puterinya menuju gerbang kesholehan.

Di sini, saat ini, dan sekarang ini-lah agama benar-benar memainkan peranan yang sangat penting dalam menghadapi modernisasi dunia. Maka tidak salah apabila Islam menjadi satu-satunya agama yang paling sempurna dan sangat sempurna. Terbukti rasulullah SAW pun juga memberikan amanah kepada kita agar mengajari anak-anak kita untuk mengenal agama yang dalam hadis berikut disimbolkan dengan pengajaran Sholat..

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين, واضربوهم عليها وهم أبناء عشرسنين, و فرّقوا بينهم في المضاجع (رواه ابو داود)

“Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat pada waktu mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat, padahal mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisah-pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud_hadis hasan).

Solusi Menghadapi Kedahsyatan Globalisasi:

  1. Berpegang teguh pada ajaran Islam (al Quran dan As Sunnah)

عن مالك رحمه الله تعالى انه بلغه أنّ رسول الله ص م قال: تركت فيكم أمرين لن تضلّوا ما تمسّكتم بهما كتاب الله و سنّة نبيّه

Dari Malik rahimahullah ta’ala bahwa telah sampai kabar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selagi berpegang pada keduanya, yaitu: kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya”.

  1. Berdo’a mengharap rahmat Allah SWT.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً *

Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, nescaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari anak *

  1. Menanamkan anak-anak dengan pendidikan agama islam dengan aqidah yang benar (aqidah ahlu sunnah wal jamaah).

  2. Mengiring remaja muslim dalam berperilaku islami.

  3. Menggalakkan kajian-kajian islam yang sesuai syariat islam (al Quran dan as Sunnah) dan bebas dari bid’ah.

Penutup

Sebagai penutup rangkaian kata-kata di atas, penulis berpesan bagi diri penulis khususnya dan kepada saudaraku seagama:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ()

"Hai orang-orang yang beriman, perbanyaklah berzikir (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab: 41-42)

Kebenaran berasal dari Allah dan apabil ada kekurangan maka semua itu semata-mata karena penulis yang fakir akan ilmu dan bergelimang akan dosa. Penulis beristighfar atas kesalahan-kesalahan yang penulis buat. Akhirul kalam. Wallahu a’lam bishhowab.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Bumi Allah yang penuh Rahmat-Nya, 22 Rabi’ul Akhir 1427 H

20 Mei 2006

محمد ذوالفكر

Sepuluh Cara Menciptakan Pengajaran yang Baik

Monday, July 23rd, 2007

oleh Richard Leblanc, York University, Ontario

diterjemahkan oleh yg punya blog amaduq01@yahoo.com


Satu. Pengajaran yang baik tidak hanya terkait dengan bagaimana seorang pengajar memotivasi siswanya untuk belajar saja, tetapi juga mengajarkan kepada mereka bagaimana cara belajar, dan bagaimana melakukannya dengan cara yang sesuai, yang penuh makna, dan yang mengesankan. Pengajaran yang baik adalah memelihara keahlian yang dimiliki oleh seorang pengajar, berkeinginan besar untuk hal tersebut, dan menyampaikan tujuan itu kepada semua orang, yang paling penting terutama kepada murid-muridnya.

Dua. Mengajar yang baik pada prinsipnya adalah berkaitan pada hakekat inti dan bagaimana memperlakukan murid-murid seperti layaknya orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Hal tersebut tentunya berkaitan dengan kemampuan terbaik pengajar terhadap bidang yang dijalaninya, sumber-sumber bacaan, didalam dan di luar bidang keahliannya, dan berada pada batas pencapaian kemampuan pengajar yang tertinggi. Akan tetapi ilmu pengetahuan tidak harus selalu berupa laporan-laporan ilmiah. Hal ini disebabkan karena pengajaran yang baik adalah juga tentang bagaimana menyeimbangkan jarak antara teori dan praktek. Hal ini terkait dengan bagaimana pengajar menggerakkan alam khayalan dan membenamkan diri seseorang ke dalam lapangannya, mengajak bicara, dan berkonsultasi, dan membantu praktisi, serta membangun komunitas mereka.

Tiga. Pengajaran yang baik adalah tentang mendengarkan, memberi pertaanyaan, menjadi responsif, dan mengingat bahwa setiap siswa dan kelas itu berbeda-beda. Hal ini diwujudkan dengan bagaimana seorang pengajar bisa mendapatkan respon dan mengembangkan kemampuan komunikasi lisan dengan siswa-siswa yang sebelumnya pendiam. Seorang pengajar harus mampu mendorong siswanya untuk unggul; sedangkan di waktu yang sama, mereka juga harus belajar menghormati orang lain, dan menjadi seseorang yang professional di segala situasi, sebagaimana hal ini terkait peran mereka sebagai manusia sosial.

Empat. Mengajar yang baik tidak selalu terkait dengan memiliki agenda yang tetap dan kaku, tetapi pengajaran yang baik harus selalu fleksibel, cair, kerap bereksperimen, dan memiliki kepercayaan diri untuk bereaksi dan membiasakan perubahan-perubahan keadaan (sekitar). Seorang pengajar jangan sampai masih merasa biasa atau berhasil ketika melihat materi yang diperoleh oleh para siswa hanya sebanyak 10 persennya saja. Jadi, ia sebagai seorang pengajar harus mampu mencoba mencari alternatif di luar silabi / rencana pelajaran atau pedoman perkuliahan dengan mudah ketika ia mendapati hal-hal yang lebih banyak dan lebih baik di luar. Mengajar yang baik adalah tentang menciptakan pribadi-pribadi kreatif yang otoriter tetapi juga tidak meninggalkan sikap demokratis.

Lima. Mengajar yang baik juga berkaitan dengan gaya. Apakah mengajar harus menghibur? Tepat sekali! Tapi apakah terus berarti bahwa kemudian pengajaran itu kehilangan isi pokoknya? Tentulah tidak! Mengajar yang efektif bukanlah terpakunya kedua tangan di atas mimbar atau terpakunya mata pada slide proyektor saat meyampaikan materi. Pengajar yang baik harus mampu menguasai ruang dan setiap siswa yang ada di dalamnya. Mereka, para pengajar, harus menyadari bahwa peran mereka adalah layaknya konduktor dan kelas diumpamakan sebagai orkestranya. Kemudian, semua siswa memainkan alat-alat musik yang berbeda dan memvariasikan kecakapan / keahliannya.

Enam. Mengajar adalah tentang humor-ini yang sangat penting. Pengajar jangan ragu-ragu untuk menjadi pribadi yang mencela diri. Dan tidak menempatkan dirinya terlalu serius. Maka, seorang pengajar harus seringkali mampu membuat lawakan-lawakan yang tidak merusak, mungkin kebanyakan dengan sedikit mengorbankan diri, sehingga seperti balok-balok es yang menjadi pecah yang membuat siswa bisa belajar dalam suatu situasi yang relax menyenangkan sedangkan pengajar seperti halnya mereka, adalah juga manusia dengan kesalahan dan kekurangan.

Tujuh. Pengajaran yang baik adalah tentang bagaimana memperhatikan, mengasuh, dan mengembangkan otak serta talenta siswa. Ini adalah tentang mencurahkan waktu, tanpa diketahui, kepada setiap siswa. Ini juga berkaitan tentang tidak menghargai waktu berjam-jam dengan memberi nilai, mendesain atau mendesain ulang perkuliahan, dan menyiapkan materi-materi kepada instruksi-instruksi yang lebih tinggi dan lebih lanjut.

Delapan. Menciptakan pengajaran yang baik ternyata perlu didukung oleh kekuatan jiwa kepemimpinan yang kuat serta visioner, dan bantuan kelembagaan yang nyata – baik sumber pendapatan, SDM, dan sumber dana. Pengajaran yang baik juga perlu diperkuat secara kontinyu dengan suatu tujuan yang overarching yang lebih penting dari keseluruhan organisasi. – dari profesi penuh menjadi part-time instruktur (instruktur paruh waktu)– dan dicerminkan di dalam apa yang dikatakan. Tetapi yang lebih penting adalah yang tercermin dari apa yang dilakukan.

Sembilan. Mengajar yang baik adalah tentang mendampingi antara kemampuan senior dan junior, kerja tim, serta menjadi dikenal dan dipromosikan oleh seseorang kawan sebayanya. Seharusnya pengajaran yang efektif diberi hadiah, sedangkan pengajaran yang tidak baik harus diremidi / diulang melalui serangkaian latihan dan pengembangan program.

Sepuluh. Tips terakhir, mengajar yang baik adalah tentang memiliki rasa fun, mengalami kesenangan, hadiah-hadiah hakiki … seperti membidik seorang siswa di belakang keributan dan melihat hubungan sinapsis dan saraf, pikiran-pikiran menjadi terformat/terbentuk, orangnya menjadi lebih baik, dan munculnya senyum yang merekah yang menghias wajah karena pengajaran semua dari kejadian yang tiba-tiba. Akan tetapi yang paling penting adalah pengajar yang baik mempraktekkan keahlian mereka tidak untuk uang.



Diterjemahkan dari artikel Richard Leblanc yang berjudul Good Teaching: The Top Requirements yang diambil dari www.honolulu.edu/hawaii pada hari Ahad, 2 Oktober 2005, Pkl. 21.00 WIB.


Monday, July 23rd, 2007